Kerinci, Targetlink.id – Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) memaparkan kondisi terkini kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) beserta berbagai tantangan yang mengancam kelestariannya dalam audiensi bersama gabungan LSM PEDAS dan LSM Fakta. Pertemuan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga kawasan konservasi terbesar di Pulau Sumatera.
Paparan materi di sampaikam oleh Kepala Bidang Tekhnis Konservasi Balai Besar TNKS, Delfi Andra, S.P., M.Si, yang mewakili Kepala Balai Besar TNKS, Haidir, S.Hut., M.Si. Kegiatan itu juga turut di hadiri Kepala Bagian Tata Usaha Dr. Suharno, S.Sos., M.Si., Kepala Bidang Wilayah I Jambi H. M. Zainuddin, S.P., M.M., M.Si. serta Seksi PTN Wilayah I Kerinci, David, S.H., M.Hum.,
Dalam paparannya, Delfi menjelaskan sejarah penetapan kawasan TNKS sejak tahun 1921 hingga penetapan terakhir pada 2021.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, TNKS memiliki luas 1.367.197,01 hektare dan menyandang berbagai pengakuan bergengsi, di antaranya sebagai Warisan Dunia UNESCO, ASEAN Heritage Park, serta Kawasan Strategis Nasional di bidang pelestarian lingkungan hidup.
Ia menegaskan bahwa status tersebut sekaligus menjadi amanah besar yang harus di jaga secara bersama. Namun demikian, kawasan TNKS masih menghadapi tekanan yang cukup serius akibat aktivitas manusia.
Berdasarkan data yang di paparkan, sekitar 100.619 hektare atau 7,36 persen dari total kawasan TNKS telah berubah menjadi opened area atau kawasan terbuka. Perubahan tersebut di pengaruhi oleh aktivitas pertanian, permukiman, dan perkebunan yang berkembang di dalam maupun sekitar kawasan.
Selain itu, BBTNKS juga mengungkap sejumlah gangguan yang hingga kini masih menjadi ancaman nyata terhadap kelestarian hutan.
Gangguan tersebut meliputi pembalakan liar (illegal logging), pertambangan emas tanpa izin (PETI), perburuan satwa liar, hingga berbagai bentuk perambahan kawasan hutan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BBTNKS terus memperkuat berbagai program konservasi yang melibatkan masyarakat sebagai mitra utama. Salah satunya melalui program Kemitraan Konservasi yang memberikan akses legal kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Selanjutnya, BBTNKS juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Program tersebut di wujudkan melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu, ekowisata, serta pertanian ramah lingkungan yang di harapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak fungsi konservasi.
Di bidang perlindungan kawasan, BBTNKS terus mengintensifkan patroli pengamanan secara rutin di titik-titik rawan. Patroli tersebut melibatkan Polisi Kehutanan (Polhut), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), serta di dukung sinergi bersama TNI dan Polri guna mencegah perambahan, pembalakan liar, perburuan satwa, dan aktivitas ilegal lainnya.
Selain patroli, penertiban kawasan juga di lakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan agar fungsi konservasi tetap terjaga secara berkelanjutan.
Melalui audiensi tersebut, BBTNKS berharap tercipta kesamaan persepsi sekaligus memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Kerinci Seblat sehingga tetap menjadi warisan alam yang memberi manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi generasi sekarang maupun mendatang.(Lya)
Editor : Liya









