Targetlink.id – Raksasa teknologi Samsung Electronics tengah menghadapi krisis besar. Sebanyak 50 ribu buruh di laporkan mengancam mogok kerja selama 18 hari setelah negosiasi dengan pihak perusahaan gagal mencapai kesepakatan.
Aksi mogok itu rencananya di mulai pada 21 Mei 2026. Serikat pekerja menuntut kenaikan gaji dan bonus yang di nilai lebih layak di tengah melonjaknya keuntungan bisnis chip Samsung.
Tidak hanya itu, para pekerja juga meminta perubahan sistem bonus tahunan yang selama ini di anggap tidak adil bagi karyawan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ancaman mogok massal tersebut langsung memicu kekhawatiran besar di industri teknologi global. Pasalnya, Samsung merupakan salah satu produsen chip semikonduktor dan memori terbesar di dunia.
Jika produksi terganggu, pasokan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di perkirakan ikut terdampak. Kondisi itu berpotensi mengganggu industri teknologi dunia yang saat ini sedang mengalami lonjakan permintaan chip AI.
Selain sektor teknologi, pasar saham juga ikut bereaksi. Investor mulai khawatir terhadap stabilitas produksi Samsung apabila mogok berlangsung penuh selama 18 hari.
Beberapa analis bahkan memperingatkan Samsung bisa mengalami kerugian miliaran dolar jika aktivitas produksi chip berhenti dalam waktu lama.
Di sisi lain, manajemen Samsung masih berusaha membuka ruang negosiasi dengan serikat pekerja. Perusahaan berharap aksi mogok bisa di batalkan sebelum jadwal dimulai.
Namun hingga kini, serikat pekerja tetap bersikeras melanjutkan aksi apabila tuntutan mereka tidak di penuhi.
Situasi tersebut menjadi tekanan baru bagi Samsung di tengah persaingan ketat industri AI global. Sebab, perusahaan saat ini sedang berusaha memperkuat dominasi bisnis chip untuk menghadapi kompetitor besar di pasar semikonduktor dunia.
Pemerintah Korea Selatan juga di kabarkan ikut memantau perkembangan konflik tersebut. Samsung dinilai memiliki peran penting terhadap ekonomi dan ekspor negara itu.
Apabila mogok benar-benar terjadi, dampaknya di perkirakan tidak hanya di rasakan Samsung, tetapi juga industri teknologi global yang bergantung pada pasokan chip perusahaan tersebut.(Lya)
Editor : Liya









