Jakarta, Targetlink.id – Media sosial kini menjadi sumber utama informasi publik. Namun, derasnya arus konten membuat banyak peristiwa penting hanya bertahan singkat dalam perhatian masyarakat. Fenomena ini di kenal sebagai budaya cepat lupa, ketika isu serius cepat tergeser oleh tren hiburan baru.
Contohnya, kasus kekerasan di institusi pendidikan sempat viral di berbagai platform. Tagar dan video testimoni memenuhi linimasa. Namun, hanya dalam hitungan hari, isu tersebut hilang dari perbincangan publik dan di gantikan tren lain yang lebih ringan.
Pengamat budaya digital Universitas Indonesia, Dr. Aulia Herlambang, menilai banjir informasi membuat publik sulit mencerna isu secara mendalam. Selain itu, algoritma media sosial lebih mendorong konten emosional dan viral di bandingkan pembahasan yang substansial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga: Pemkot Sungai Penuh Sabet Prestasi Informasi Publik
Dampaknya, akuntabilitas sosial ikut melemah. Isu krusial sering tidak sempat menghasilkan solusi karena perhatian publik terlanjur berpindah. Bahkan, prestasi nasional dan capaian penting negara kerap hanya viral sesaat sebelum akhirnya tenggelam.
Psikolog Universitas Airlangga, dr. Intan Rukmana, menyebut kondisi ini sebagai kelelahan informasi. Karena itu, literasi digital dinilai penting agar masyarakat mampu menjaga fokus dan kontinuitas perhatian terhadap isu yang benar-benar berdampak jangka panjang.(Lya)
Baca Juga: Wabup Murison Terima Visitasi Monev Informasi Publik
Editor : Liya









