Jakarta, Targetlink.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi menegaskan wafatnya bocah kelas empat SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, harus menjadi peringatan serius bagi negara. Menurutnya, anak-anak belum sepenuhnya memiliki ruang aman, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
Arifah menyatakan anak laki-laki juga memiliki kerentanan yang sering tidak terlihat. Konstruksi sosial kerap membatasi mereka untuk mengekspresikan emosi dan meminta bantuan, sehingga banyak kasus luput dari perhatian sistem perlindungan anak.
Ia menegaskan anak dan remaja laki-laki memiliki hak yang sama untuk mengutarakan keluhan, termasuk persoalan pertemanan dan tekanan di sekolah. Negara, kata Arifah, wajib memastikan setiap anak merasa aman untuk berbicara dan didengarkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga: Warga Heboh, TPS Liar Bekasi Penuh Cacahan Mirip Uang
Menurut Arifah, tragedi di Ngada mencerminkan masih lemahnya sistem perlindungan anak di sejumlah daerah. Ia mendorong pemerintah pusat dan daerah meninjau ulang implementasi kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) agar berjalan efektif dan menyentuh kebutuhan nyata anak.
KemenPPPA melalui layanan SAPA 129 telah berkoordinasi dengan UPTD PPPA Kabupaten Ngada untuk pendampingan psikologis, meski terkendala keterbatasan psikolog klinis. Data SIMFONI-PPA mencatat, sepanjang 2025 lebih dari 6.000 anak laki-laki menjadi korban kekerasan fisik, psikis, dan seksual di Indonesia.(Lya)
Baca Juga: Rapat Kapolda Jambi Bersama Pemprov Bahas Karya Bakti Sosial, Taman Eks MTQ Jadi Prioritas
Editor : Liya









