Targetlink.id – Hari Ibu sering di rayakan dengan bunga, ucapan, dan senyum hangat. Namun bagi sebagian perempuan, hari ini justru mengingatkan pada luka yang belum sembuh. Tidak semua ibu dekat dengan anaknya, dan tidak semua hubungan rumah tangga berjalan mulus. Hari Ibu bisa menjadi momen yang berat bagi mereka yang menyimpan kesedihan dalam diam.
Ada ibu yang harus mencintai anaknya dari jauh. Jarak memisahkan mereka, sementara rindu hanya bisa di ungkapkan lewat doa dan kenangan. Setiap Hari Ibu, kerinduan itu terasa lebih tajam karena ia tidak bisa hadir secara fisik untuk mendampingi buah hatinya.
Ada ibu yang kehilangan buah hatinya. Kehilangan itu meninggalkan ruang kosong yang tak tergantikan. Senyum bisa kembali hadir di wajahnya, tetapi luka dalam hatinya tetap ada, dipeluk dalam diam dan kesendirian. Hari Ibu bagi mereka sering menjadi pengingat akan kepergian yang tak terganti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, ada istri yang terluka oleh perlakuan suaminya. Kata-kata yang menyakitkan, sikap yang merendahkan, atau ketidakpedulian menjadi beban yang di peluk sendiri. Ia bertahan demi anak atau rumah tangga, meski hatinya sering remuk dan sepi. Hari Ibu bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang empati untuk ibu-ibu yang sedang menahan luka.
Hari Ibu seharusnya lebih dari sekadar ucapan manis dan hadiah. Ini adalah momen untuk mengakui luka yang masih ada, memberi ruang empati, dan menghormati perjuangan ibu. Menjadi ibu tidak selalu berarti baik-baik saja, tetapi keberanian memeluk luka sendiri juga layak di hargai.(Lya)
Editor : Liya
Sumber Berita : Targetlink.id









