Jakarta, Targetlink.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan berat hingga menyentuh level Rp17.949 per dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah dan memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya impor, hingga BBM nonsubsidi.
Pelemahan rupiah di pengaruhi berbagai faktor global dan domestik. Selain penguatan dolar AS di pasar internasional, meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia juga membuat arus modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Akibatnya, biaya impor bahan baku industri menjadi semakin mahal. Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual produk agar tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, sektor pangan ikut terkena dampak langsung. Harga kedelai impor, gandum, hingga bahan baku makanan lainnya di perkirakan akan naik apabila nilai tukar rupiah terus melemah dalam waktu lama.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi sektor energi nasional. Indonesia yang masih mengimpor minyak mentah berpotensi menghadapi peningkatan biaya apabila dolar AS terus menguat. Karena itu, masyarakat mulai khawatir terhadap kemungkinan naiknya harga BBM nonsubsidi dalam beberapa waktu mendatang.
Pengamat ekonomi menilai pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas pasar keuangan agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. Selain intervensi pasar, penguatan ekspor dan investasi di nilai menjadi langkah penting untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional.
Baca Juga: Perdana, ASN Kota Sungai Penuh Qurban 35 Ekor Sapi, Wako Alfin Soroti Semangat Kebersamaan
Sementara itu, masyarakat di minta tetap tenang dan tidak melakukan pembelian dolar secara berlebihan. Sebab, fluktuasi nilai tukar masih sangat dipengaruhi kondisi global yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Di media sosial, pelemahan rupiah menjadi topik hangat yang banyak di perbincangkan warganet. Banyak masyarakat mengaku khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan sehari-hari apabila dolar AS terus berada di level tinggi.(Lya)
Editor : Liya









