Jakarta, Targetlink.id – Pemerintah Indonesia resmi menyepakati kesepakatan impor minyak, gas, dan BBM dari Amerika Serikat (AS) senilai sekitar US$ 15 miliar per tahun atau setara lebih dari Rp 250 triliun. Kebijakan ini merupakan bagian dari perjanjian perdagangan timbal balik (Agreement on Reciprocal Trade) yang di teken kedua negara.
Langkah ini tidak menambah total volume impor migas Indonesia secara keseluruhan, melainkan mengalihkan porsi impor dari negara-negara lain ke AS. Artinya, beberapa pemasok energi tradisional Indonesia akan mengalami penurunan pangsa pasar.
Negara-negara yang di perkirakan tergeser dari posisi pemasok utama migas RI antara lain:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Singapura – Selama ini merupakan pengirim terbesar produk minyak olahan ke Indonesia.
2. dan BBM yang juga terdampak alih pasokan.
3. Qatar & Uni Emirat Arab – Pemasok LPG selain AS kini tertekan karena porsi pembelian LPG dari AS meningkat.
4. Negara-negara Timur Tengah dan Afrika – Secara umum mengalami penurunan volume karena sebagian kontrak di alihkan ke produsen AS.
Pemerintah menegaskan ini bukan berarti ketergantungan terhadap impor makin tinggi, melainkan strategi penataan ulang pasokan energi nasional yang tetap mempertimbangkan mekanisme keekonomian dan keseimbangan perdagangan bilateral dengan AS.
Baca juga: Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia di KTT ASEAN
Direktur Utama Pertamina mengatakan impor LPG dari AS bahkan bisa mencapai 70% dari total impor LPG RI, jauh mengungguli kontribusi Qatar atau UEA dalam struktur pasokan nasional.
Kebijakan ini juga di nilai sebagai bagian dari negosiasi tarif resiprokal antara RI dan AS, di mana Jakarta menerima pembelian energi sebagai penyeimbang pengurangan tarif impor barang Indonesia ke AS.(Lya)
Baca Juga: Prabowo Segera Luncurkan Gerakan Indonesia ASRI, Dorong Program Gentengnisasi Nasional
Editor : Liya









