Jakarta, Targetlink.id – Rabu, 4 Maret 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prakiraan musim kemarau 2026 yang di prediksi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Pergeseran ini di pengaruhi oleh berakhirnya La Niña dan transisi menuju kondisi iklim netral pada awal tahun.
BMKG memprediksi sekitar 46 persen Zona Musim (ZOM) akan memasuki periode kering lebih cepat dari rata-rata klimatologis. Sejumlah daerah di perkirakan mulai mengalami penurunan curah hujan sejak April hingga Juni 2026. Kondisi ini membuat musim kemarau maju di banding pola normal tahunan.
Puncak musim kemarau di perkirakan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, curah hujan di banyak wilayah berada di bawah normal. Situasi ini berpotensi memicu kekeringan, terutama di daerah pertanian tadah hujan dan wilayah dengan cadangan air terbatas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Baca Juga: Tak Hanya K-Pop, Korea Selatan Kini Jadi Surga Wisata Halal di Asia Timur
BMKG juga mengingatkan risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat saat memasuki puncak kemarau. Minimnya hujan dan suhu udara yang lebih tinggi dapat memperburuk kualitas udara di sejumlah daerah. Pemerintah daerah di minta memperkuat mitigasi dan pengawasan titik panas sejak dini.
BMKG mengimbau masyarakat, petani, dan pelaku usaha menyesuaikan pola tanam serta pengelolaan sumber daya air. Antisipasi lebih awal di nilai penting agar dampak musim kemarau 2026 bisa ditekan. Informasi terbaru dapat di pantau melalui kanal resmi BMKG.(Lya)
Baca Juga: Comeback Spektakuler! BTS Rilis Album “Arirang” dengan 14 Lagu Baru Rayakan 12 Tahun Karier
Editor : Liya









