Sungai Penuh, Targetlink.id — Sebuah karya film yang mengangkat hubungan manusia dengan alam dan air hadir di Kota Sungai Penuh. Film fiksi panjang berjudul Mantagi: Air dan Manusia karya sutradara Taufik Hidayat Rusti difasilitasi Pemerintah Daerah Kota Sungai Penuh untuk diputar di Aula Kantor Wali Kota Sungai Penuh, Rabu (16/9/2026).
Pemutaran film tersebut juga menjadi kesempatan bagi siswa dan siswi SMA Negeri 4 Sungai Penuh untuk mengikuti nonton bareng. Kehadiran para pelajar memberikan warna tersendiri dalam pemutaran film yang mengangkat isu lingkungan, budaya, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan alam tersebut.
Film berdurasi 90 menit itu mengusung genre misteri dengan sentuhan spiritual dan lingkungan. Ceritanya dikemas dalam bentuk antologi yang terdiri dari lima kisah, dengan air dan aliran Sungai Batanghari sebagai benang merah dari satu cerita ke cerita lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan cerita membawa penonton menyusuri sejumlah wilayah di Provinsi Jambi, mulai dari Danau Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci, Merangin, kawasan Percandian Muaro Jambi, hingga Teluk Majelis di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Taufik Hidayat Rusti mengatakan, pemilihan sejumlah wilayah tersebut bukan sekadar sebagai latar film. Kawasan hulu hingga pesisir Sungai Batanghari dinilai memiliki keragaman budaya, bahasa, adat dan kehidupan masyarakat yang kemudian dirangkai menjadi satu cerita.
“Air tidak hanya menghubungkan wilayah secara geografis, tetapi juga mempersatukan nilai budaya dan kesadaran masyarakat,” ujar Taufik.
Ia menjelaskan, kata “Mantagi” merupakan istilah lama yang berkaitan dengan kesadaran batin dan budi pekerti. Karena itu, film tersebut tidak hanya berbicara mengenai persoalan lingkungan, tetapi juga mengajak manusia melihat kembali hubungan dirinya dengan alam.
Dalam proses pembuatannya, masyarakat lokal turut dilibatkan, baik dalam proses kreatif maupun sebagai bagian dari cerita. Penggunaan berbagai benda dan properti khas daerah juga menjadi bagian penting dalam membangun suasana film.
Sejumlah aktor lokal dari berbagai daerah di Jambi ikut ambil bagian, di antaranya Muhammad Husni Thamrin, Azhar MJ asal Kerinci, Ide Bagus Putra asal Merangin, Didi Hariadi asal Tanjung Jabung Timur, serta Ahmad Bayu Suwarnadwipa, Ainun Ja’ariyah, Iyaas Halim, Muhamad Sultan Al Fikri, Muhammad Al Wafi dan Haris Mualimin dari Muaro Jambi.
Ide Bagus Putra mengungkapkan, salah satu tantangan dalam film tersebut adalah ketika dirinya harus memerankan dua karakter dalam satu sosok, yakni Jamal dan representasi “hantu air”. Karakter tersebut menjadi bagian dari pesan mengenai dampak eksploitasi terhadap lingkungan.
Sementara itu, pemeran lainnya juga menjalani proses pendalaman karakter sebelum proses pengambilan gambar. Produksi film sendiri berlangsung selama sekitar satu bulan.
Bagi para siswa dan siswi SMA Negeri 4 Sungai Penuh, kesempatan menyaksikan film secara langsung menjadi pengalaman tersendiri. Selain menikmati cerita bergenre misteri, para pelajar juga dapat melihat bagaimana isu lingkungan, budaya lokal dan kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Jambi diangkat melalui karya film.
Film Mantagi: Air dan Manusia ditujukan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas. Setelah Lebaran, tim produksi berencana menggelar pemutaran film secara keliling serta mengikuti sejumlah festival film.
Melalui kisah misteri yang dibalut nilai spiritual dan budaya lokal, Mantagi: Air dan Manusia mencoba menghadirkan ruang bagi penonton untuk merenungkan kembali arti air, lingkungan, dan hubungan manusia dengan alam. (Jn)
Editor : Joni









